Advertisement
JAKARTA - Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh beredarnya sebuah video yang memperlihatkan struk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) dari SPBU PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Sorotan utama publik tertuju pada rincian harga Pertalite tanpa subsidi yang ternyata menembus angka Rp16.088 per liter.
Dalam unggahan viral tersebut, seorang warganet bernama Nasar mempertanyakan kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi sebesar Rp6.088 per liter untuk Pertalite, sehingga harga jualnya menjadi Rp10.000. Ia merasa heran mengapa nilai keekonomian asli Pertalite terkesan lebih mahal dibandingkan Pertamax yang memiliki nilai oktan (RON) lebih tinggi dan saat ini dibanderol Rp12.300 per liter. Pengunggah juga mempertanyakan mengapa bukan Pertamax yang mendapatkan subsidi dari pemerintah.
Merespons kehebohan tersebut, Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa skema subsidi telah dikaji secara matang oleh pemerintah dengan memprioritaskan produk BBM yang paling mayoritas dikonsumsi oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, Pertalite ditetapkan sebagai Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP). Di sisi lain, Pertamax berstatus sebagai BBM umum yang harganya berfluktuasi mengikuti mekanisme pasar internasional dan tidak mendapatkan alokasi subsidi.
Terkait harga Pertamax yang saat ini berada di angka Rp12.300 per liter, Roberth menegaskan bahwa harga tersebut sebenarnya telah ditahan atas hasil koordinasi antara Pertamina dan pemerintah sejak 1 April 2026. Langkah ini sengaja diambil untuk melindungi daya beli masyarakat kelas menengah. Ia mengungkapkan bahwa harga keekonomian asli dari Pertamax sesungguhnya jauh lebih mahal dibandingkan harga Pertalite tanpa subsidi yang berada di kisaran Rp16.088 tersebut.
Sebagai perbandingan, Roberth memaparkan bahwa saat harga Pertamax Turbo masih di angka Rp13.100, Pertamax dijual seharga Rp12.300 per liter (selisih tipis). Mengingat saat ini harga Pertamax Turbo telah melonjak hingga Rp19.900 per liter, maka nilai wajar Pertamax di pasaran seharusnya juga berada di kisaran angka yang jauh melampaui harga jual saat ini.
Sebagai informasi tambahan, PT Pertamina (Persero) baru saja melakukan penyesuaian harga untuk sebagian besar produk BBM nonsubsidi pada Senin, 4 Mei 2026. Keputusan ini diambil setelah absennya penyesuaian harga rutin pada awal bulan (1 Mei 2026). Kenaikan harga dialami oleh Pertamax Turbo yang kini menjadi Rp19.900 per liter, Dexlite menjadi Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex yang menyentuh Rp27.900 per liter (harga referensi Jabodetabek). Sementara itu, harga Pertamax dan Pertamax Green 95 dipertahankan pada nominal sebelumnya.
Penyesuaian ini merupakan hasil evaluasi berkala yang mengacu pada dinamika minyak mentah dunia, produk olahan pasar internasional, serta fluktuasi nilai tukar rupiah. Meski pada prinsipnya mengikuti nilai keekonomian pasar, Pertamina sebagai BUMN tetap mempertimbangkan stabilitas ekonomi nasional dan kemampuan daya beli pelanggannya.
Berikut adalah rincian lengkap harga BBM Pertamina yang berlaku mulai 4 Mei 2026 di berbagai wilayah:
• DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta: Pertamax (Rp12.300), Pertamax Turbo (Rp19.900), Pertamax Green (Rp12.900), Dexlite (Rp26.000), Pertamina Dex (Rp27.900), Pertalite (Rp10.000), Biosolar (Rp6.800/liter).
• Riau dan Kepulauan Riau: Pertamax (Rp12.900), Pertamax Turbo (Rp20.750), Dexlite (Rp27.150), Pertamina Dex (Rp29.100), Pertalite (Rp10.000), Biosolar (Rp6.800/liter).
• Bengkulu, Nusa Tenggara Timur: Pertamax (Rp12.600), Pertamax Turbo (Rp20.350), Dexlite (Rp26.600), Pertamina Dex (Rp28.500), Pertalite (Rp10.000), Biosolar (Rp6.800/liter).
• Bali, Nusa Tenggara Barat: Pertamax (Rp12.300), Pertamax Turbo (Rp19.900), Dexlite (Rp26.000), Pertamina Dex (Rp27.900), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Aceh: Pertamax (Rp12.600), Pertamax Turbo (Rp20.350), Dexlite (Rp26.600), Pertamina Dex (Rp28.500/liter).
• Sumatra Barat: Pertamax (Rp12.900), Pertamax Turbo (Rp20.750), Dexlite (Rp27.150), Pertamina Dex (Rp29.100), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Sumatra Utara: Pertamax (Rp12.600), Pertamax Turbo (Rp20.350), Dexlite (Rp26.600), Pertamina Dex (Rp28.500), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Kalimantan (Barat, Timur, Tengah): Pertamax (Rp12.600), Pertamax Turbo (Rp20.350), Dexlite (Rp26.600), Pertamina Dex (Rp28.500), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Kalimantan (Utara, Selatan): Pertamax (Rp12.900), Pertamax Turbo (Rp20.750), Dexlite (Rp27.150), Pertamina Dex (Rp29.100), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Sulawesi (Utara, Gorontalo, Tengah, Tenggara, Selatan, Barat): Pertamax (Rp12.600), Pertamax Turbo (Rp20.350), Dexlite (Rp26.600), Pertamina Dex (Rp28.500), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Maluku, Maluku Utara: Pertamax (Rp12.600), Dexlite (Rp26.600), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Papua (Barat, Pegunungan, Tengah, Barat Daya, Selatan): Pertamax (Rp12.600), Pertamax Turbo (Rp20.350), Dexlite (Rp26.600), Pertamina Dex (Rp28.500), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Free Trade Zone Batam: Pertamax (Rp11.750), Pertamax Turbo (Rp18.900), Dexlite (Rp24.700), Pertamina Dex (Rp26.500), Pertalite (Rp10.000/liter).
• Free Trade Zone Sabang: Pertamax (Rp11.550), Dexlite (Rp24.400), Pertalite (Rp10.000/liter).