Advertisement
PROBOLINGGO, VISINEGERI – Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Probolinggo memperkuat konsolidasi organisasi dan gerakan pemberdayaan perempuan melalui pelantikan Forum Da’iyah Fatayat NU (FORDAF) periode 2026–2030 sekaligus peluncuran 99 Majelis Taklim Fatimah Zahra.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ballroom Hotel Bromo View, Probolinggo, Minggu (27/9/2026).
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo, Sofia, M.Pd., mengatakan pelantikan FORDAF menjadi bagian dari langkah organisasi untuk memperkuat dakwah dan pemberdayaan hingga tingkat akar rumput.
Sebanyak 25 pengurus FORDAF dilantik dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari kalangan neng dan bu nyai muda pondok pesantren.
“Pengurus FORDAF yang dilantik berjumlah 25 orang dari kalangan neng dan bu nyai muda pondok pesantren. Ke depan mereka akan menjalankan program-program dakwah Fatayat NU,” ujar Sofia.
Menurutnya, keberadaan FORDAF diharapkan mampu memperluas ruang dakwah sekaligus memperkuat peran perempuan di tengah masyarakat.
Di saat yang sama, PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo juga meluncurkan 99 Majelis Taklim Fatimah Zahra.
Sofia menjelaskan, pembentukan majelis taklim tersebut merupakan bagian dari upaya menata gerakan Fatayat NU di tingkat bawah agar lebih terstruktur dan lebih mudah dikembangkan.
“Selama ini gerakan di bawah sebenarnya sudah ada, tetapi belum tertata secara optimal. Karena itu, melalui Majelis Taklim Fatimah Zahra ini kami ingin melakukan penataan agar gerakannya lebih maksimal,” katanya.
Majelis Taklim Fatimah Zahra tidak hanya diarahkan sebagai ruang kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai wadah diskusi dan pemberdayaan.
Menurut Sofia, kegiatan di dalamnya mencakup pengajian, istighotsah, kegiatan sosial, berbagi, hingga diskusi mengenai persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Majelis Taklim Fatimah Zahra bukan hanya melulu ngaji. Ada pengajian, istighotsah, kegiatan berbagi, tetapi juga ada diskusi-diskusi yang berkaitan dengan persoalan umum di masyarakat,” jelasnya.
Ia menegaskan, Fatayat NU ingin membangun gerakan perempuan yang tidak hanya aktif secara keagamaan, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial.
“Intinya Fatayat itu harus berdaya dan berdampak. Bukan hanya mewadahi kegiatan keagamaan, tetapi juga harus berdaya secara keumatan dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat melalui program-program yang dijalankan,” tegas Sofia.
Menurutnya, jaringan Majelis Taklim Fatimah Zahra kini telah mulai bergerak hingga tingkat ranting, desa, dan dusun.
Jaringan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang konsolidasi organisasi sekaligus sarana untuk merespons berbagai kebutuhan masyarakat di tingkat bawah.
Dalam rangkaian kegiatan itu, Sekretaris PW Fatayat NU Jawa Timur, Robiah Al Adawiyah, M.Pd., turut memberikan materi capacity building yang menekankan penguatan tata kelola dan administrasi organisasi.
Materi tersebut diarahkan untuk membangun organisasi yang lebih profesional, efektif, dan akuntabel, sekaligus mendorong kader Fatayat NU agar mampu memperluas dampak program pemberdayaan.
Melalui pelantikan FORDAF dan peluncuran 99 Majelis Taklim Fatimah Zahra, PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo menargetkan gerakan organisasi yang lebih terstruktur, dekat dengan masyarakat, serta mampu memperkuat peran perempuan hingga tingkat paling bawah.